http://rodja.tv/http://rodja.tv/
LIBANATI QURROTUL ABAWAINI
Translate
Senin, 17 Juni 2013
Sabtu, 15 Juni 2013
NASEHAT RASULULLAH KEPADA PUTRINYA
NASEHAT RASULULLAH KEPADA PUTRINYA – FATIMAH AZ-ZAHRA
Ada 10 Nasihat Rasulullah
kepada putrinya, Fatimah Az-Zahra binti Rasulillah SAW. Sepuluh nasihat
yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya,
khususnya bagi setiap istri yang mendambakan keshalehan. Nasihat atau
wasiat tersebut adalah :
1. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami
dan anak-anaknya kelak Allah tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji
gandum yang diadonnya dan juga Allah akan melebur kejelekan serta
meningkatkan derajatnya.
2. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika
menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan
menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.
3. Wahai Fatimah! Sesungguhnya seorang yang meminyaki rambut
anak-anaknya lalu menyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya maka Allah
akan tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang
yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan
tetangganya, maka Allah akan membantunya untuk dapat minum telaga
kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Wahai Fatimah! Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas
adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha
kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fatimah,
kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Wahai Fatimah! Di saat seorang wanita mengandung, maka malaikat
memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari
seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika seorang wanita
merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama
dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Di saat seorang wanita
melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika ia
dilahirkan dari kandungan ibunya. Di saat seorang wanita meninggal
ketika melahirkan, maka tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam
kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga.
Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala sribu orang yang
melaksanakn ibadah haji dan umrah dan seribu malaikat memohonkan ampunan
baginya hingga hari kiamat.
7. Wahai Fatimah! Di saat seorang istri melayani suaminya selama
sehari semalam dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni
dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya pada hari kiamat berupa
pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada
tubuhnya seribu kebaikan. Allah pun akan memberikan kepadanya pahala
seratus kali ibadah haji dan umrah.
8. Wahai Fatimah! Di saat seorang istri tersenyum di hadapan suaminya maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk
suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil
dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan
Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan
menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong
kukunya, maka Allah akan memberi minuman arak yang dikemas indah
kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allahpun akan
mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian
dari taman surga. Allahpun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka
serta dapat melintasi shiratal-mustaqim dengan selamat.
Dari Abdullah bin Amr Al-Ash r.a, Rasulullah bersadbda : “DUNIA
ADALAH SUATU KESENANGAN, DAN SEBAIK-BAIK KESENANGAN ADALAH WANITA YANG
SHALEHAH.”
( HR. Muslim )
( HR. Muslim )
NASEHAT UNTUK TETANGGA
Menuai Pahala dalam Hidup Bertetangga
Tetangga
merupakan orang yang sangat dekat dalam keseharian kita. Jika kita
keluar rumah, maka tetangga-lah yang kita temui pertama kali. Saat kita
membutuhkan bantuan, tetangga-lah yang pertama kali kita datangi pintu
rumahnya. Sangat tidak mungkin bagi kita untuk hidup tanpa tetangga.
Sungguh tetangga sangatlah penting artinya dalam kehidupan kita hingga
Allah memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga.
“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan
sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga
yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian…” (Qs. An-Nisa’: 36)
Bahkan tetangga begitu mulianya dalam ajaran Islam hingga Malaikat Jibril senantiasa berpesan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu menjaga hak tetangga.
“Senantiasa Jibril berpesan kepadaku tentang (hidup) bertetangga,
sampai aku menyangka bahwa dia tetangga akan mewarisi tetangganya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ketahuilah saudariku, berbuat baik terhadap tetangga adalah bukti
keimananmu kepada Allah. Dan tidak akan sempurna keimananmu sebelum
engkau mencintai tetanggamu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.
Engkau menginginkan kebaikan bagi mereka sebagaimana engkau
menginginkan kebaikan pada dirimu sendiri, merasa bahagia ketika mereka
bahagia dan merasa sedih ketika mereka merasa sedih.
“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)
Oleh karenanya saudariku, berlembut hatilah terhadap tetanggamu dan
ringankan tanganmu untuk membantu tetanggamu serta bersikaplah peka
terhadap hal-hal yang mengganggu atau menyakiti mereka.
Berbuat Baik pada Tetangga sesuai Kemampuan
Maka hendaknya engkau, saudariku, tidak melupakan diri untuk berbuat
baik pada tetanggamu meskipun anya sedikit. Bukankah engkau yakin dengan
janji Allah
“Dan barangsiapa berbuat kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (Qs. Az-Zalzalah: 8)
Janganlah merasa malu dengan sedikitnya pemberianmu. Dan jangan pula
karena berbangga-bangga menghalangimu untuk memberi dalam jumlah
sedikit. Engkau beralasan pemberian yang sedikit tidak layak bagi
tetanggamu, lalu engkau menahan pemberianmu karena menunggu jumlah yang
banyak, sampai akhirnya engkau tidak mampu mencapai jumlah yang banyak
itu dan hilanglah kesempatan untuk berbuat baik kepada tetanggamu. Wal
iyya’udzubillahi min dzalik. Ingatlah pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadamu
“Wahai sekalian wanita muslimah, tidak diperbolehkan seorang
tetangga menganggap remeh pemberian yang dia berikan kepada tetangganya.
meskipun hanya sedikit.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dan sebaliknya, seorang tetangga tidak boleh menghina kebaikan yang
diberikan oleh tetangganya meskipun kebaikan itu hanya sedikit. Justru
ia harus mensyukurinya sehingga tumbuhlah kedamaian dan kerukunan dalam
kehidupan bertetangga.
Dan di antara bentuk berbuat baik terhadap tetangga adalah memberikan
hadiah kepada tetangga misalnya engkau mengirimkan sebagian masakanmu
ketika masakanmu tercium oleh tetanggamu dan mereka menginginkannya
sementara mereka tidak mampu untuk membuat masakan seperti itu.
Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Apabila engkau memasak sayur berdaging, maka perbanyaklah
kuahnya, kemudian perhatikanlah anggota keluarga tetanggamu, lalu
berilah mereka dengan cara yang baik.” (HR. Muslim)
Terlebih lagi jika tetangga sangat membutuhkan bantuanmu, seorang
muslimah hendaknya mengulurkan tangannya terutama jika dia berada dalam
kemudahan rezeki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah beriman kepadaku seorang yang kenyang sedangkan tetangga di sampingnya menderita kelaparan, sementara dia mengetahui.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar)
Bentuk lain dari berbuat baik terhadap tetangga adalah hendaknya
seorang muslimah tidak pelit untuk memberikan nasihat dan saran kepada
tetangga, bahkan mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah
keburukan dengan bijaksana dan baik tanpa maksud menjatuhkan atau
menjelek-jelekan mereka. Selain itu seorang muslimah hendaknya juga
memelihara hak-hak mereka di saat mereka tidak ada di rumah yaitu
menjaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan usil.
Mendahulukan Tetangga Terdekat
Sesungguhnya tetangga yang masih kerabat memiliki hak yang lebih besar daripada tetangga yang bukan kerabat.
“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan
sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga
yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian…” (Qs.An-Nisa’: 36)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan bahwa yang dimaksud tetangga dekat adalah tetangga yang masih memiliki hubungan nasab (keluarga), sedangkan tetangga jauh
adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan nasab. Maka tetangga dekat
memiliki dua hak yaitu hak sebagai keluarga dan hak sebagai tetangga
sementara tetangga jauh hanya memiliki satu hak yaitu hak sebagai
tetangga. Maka selayaknya seorang muslimah mengutamakan tetangga dekat
terlebih dahulu.
Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
tetangga dekat adalah tetangga yang masih memiliki hubungan nasab atau
ikatan agama. Sedangkan tetangga jauh adalah yang tidak ada hubungan
darah atau ikatan agama. Oleh karena itu tetangga muslim lebih pantas
didahulukan daripada tetangga yang kafir karena adanya ikatan agama.
Demikian juga tetangga yang paling dekat letak rumahnya memiliki hak
yang lebih besar daripada tetangga yang jauh letak rumahnya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kau memiliki dua tetangga, kepada tetangga mana aku harus memberikan hadiah?” Beliau menjawab,“Kepada yang paling dekat pintu rumahnya.” (HR. Bukhari)
Mendahulukan tetangga terdekat akan lebih memelihara perasaan
tetangga. Hal ini karena biasanya tetangga dekat memiliki hubungan dan
muamalah yang lebih kental. Namun bukan berarti seorang muslimah
memalingkan pandangannya dari tetangga yang jauh karena semua rumah yang
berada di sekitar tempat tinggalnya adalah tetangganya dan memiliki hak
sebagai tetangga.
Meruginya Tetangga yang Jahat
Wahai saudariku muslimah, janganlah engkau menyakiti atau
menganggangu tetanggamu. Hendaknya engkau peka terhadap sikap yang
engkau perlihatkan dan suara yang engkau perdengarkan kepada tetanggamu.
Janganlah bangunan yang engkau bangun membuat mereka terhalang dari
sinar matahari atau udara. Janganlah sampai bangunan tersebut melampaui
batas tanahnya, sehingga bisa merusak atau mengubah hak miliknya karena
hal tersebut akan menyakiti hatinya.
Jangan pula engkau mengganggu tetanggamu dengan mengotori halaman
mereka atau menutup jalan bagi mereka. Dan hendaknya seorang muslimah
tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan serta tidak pula bahagia
bila mereka keliru. Bahkan ia seharusnya tidak memandang kealpaan mereka
dan merahasiakan kekurangan mereka.
Wahai saudariku, janganlah engkau membuat kegaduhan yang mengganggu
mereka. Jangnlah mengeraskan suara radio, TV atau suara yang sejenis
sehingga mengganggu kegiatan mereka atau mengganggu istirahat mereka
ketika sakit. Bahkan sekalipun yang diperdengarkan adalah bacaan
Al-Quran, selama hal tersebut mengganggu tetangga maka berarti dia telah
berbuat zhalim.
Sungguh tetangga yang jahat akan dijauhkan dari nikmatnya iman. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi
Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak
beriman!” Nabi ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab,”Yaitu
orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Tak hanya hilangnya nikmat iman, amalannya akan musnah karena kejahatannya dan ia pun dijauhkan dari surga.
Pernah ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang yang senantiasa bangun
malam dan berpuasa, berbuat dan bersedekah, tetapi dia senantiasa
menyakiti tetangganya melalui ucapan.”
Rasulullah pun menjawab, “Tiada kebaikan baginya, dan dia termasuk penghuni neraka.”
Kemudian para sahabat berkata, “Ada wanita lain yang selalu
mengerjakan shalat wajib, bersedekah dengan susu yang dikeringkan dan
dia tidak pernah menyakiti satu orang pun dari tetangganya.”
Maka Rasulullah menajwab, “Dia itu termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari)
Dan hendaklah seorang muslimah bersabar jika mendapati perlakuan
tidak baik dari tetangga serta memaafkan dan tidak membalasnya. Dan
janganlah mengedepankan emosi jika salah satu putranya bertengkar dengan
putra tetangganya kemudian bersikap tidak acuh terhadap tetangganya,
namun ia seharusnya mendamaikan dan berlapang dada. Bergembiralah
menjadi tetangga yang penyantun dan kasih, bergembiralah dengan
kesabaranmu karena engkau akan mendapatkan pahala dan keridhaan Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada
tiga kelompok manusia yang dicintai Allah… — disebutkan diantaranya–
Sesorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh
tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah
oleh kematian.” (HR. Ahmad)
Perbuatan Buruk ke Tetangga Mendapat Ganjaran Dosa Berlipat Ganda
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, ketika beliau bertanya kepada para sahabat, “Apa yang kamu katakan tentang (hukum) zina?” Mereka menjawab, “Haram.”
Lalu beliau bersabda, “Seseorang berzina dengan sepululh wanita lebih ringan dibanding jika ia berzina dengan istri tetangganya.”
Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apa yang kamu katakan tentang (hukum) mencuri?” Mereka menjawab, “Haram.”
Lalu, beliau bersabda, “Seseorang mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan (dosanya) dibanding jika ia mencuri dari rumah tetangganya.” (HR. Ahmad)
Agar tidak disalahpahami, hadits ini bukanlah berarti zina dan
mencuri kepada selain tetangga tidak berdosa. Bahkan ia juga berdosa,
sebagaimana dalam hadits di atas, para sahabat menjawab bahwa zina dan
mencuri merupakan perbuatan yang haram dilakukan. Namun, perbuatan itu
semakin keras ancaman dosanya ketika dilakukan terhadap tetangga.
Tak Ternilai Harganya di Dunia dan Mendapatkan Surga di Akhirat
Tetangga yang baik memberikan kesejukan pandangan, ketenangan dan keamanan.
“Di antara kebahagiaan seorang muslim di dunia adalah tetangga yang baik, rumah yang luas dan kendaraan yang menyenangkan.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)
Dikisahkan bahwa tetangga Sa’id bin Al-’Ash ditawar rumahnya dengan
harga 100.000 dirham. Kemudian tetangga itu berucap kepada penawar, “Itu
harga rumah, lalu berapa engkau akan membeli hidup bertetangga dengan
Sa’id?” Ketika mengetahui peristiwa itu, Sa’id mengirim harga yang sama
dan menyuruh tetap menempati rumahnya tersebut. Sungguh memiliki
tetangga yang baik merupakan nikmat yang tidak ternilai harganya di
dunia dan tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Tak hanya di dunia, tetangga yang baik akan mendapatkan surga di
akhirat, yang di dalamnya terdapat segala nikmat yang diinginkan oleh
jiwa.
Pernah ditanyakan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai
Rasulullah, sesungguhnya ada seorang yang senantiasa bangun malam dan
berpuasa, berbuat dan bersedekah, tetapi dia senantiasa menyakiti
tetangganya melalui ucapan.” Rasulullah pun menjawab, “Tiada kebaikan
baginya, dan dia termasuk penghuni neraka.” Kemudian para sahabat
berkata, “Ada wanita lain yang selalu mengerjakan shalat wajib,
berseedekah dengan susu yang dikeringkan dan dia tidak pernah menyakiti
satu orang pun dari tetangganya.” Maka Rasulullah menajwab, “Dia itu termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari)
Maka berlombalah saudariku untuk menjadi tetangga yang baik agar engkau mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.
Penyusun: Ummu Shofia Mutia Nova
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Jati Diri Wanita Muslimah (terj.) karya Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi yang diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar
Etika Muslim Sehari-Hari (terj.) karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, http://shirotholmustaqim.files.wordpress.com, diakses 3 Maret 2009
Taisirul Karimir Rahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di
Shahih Bukhari yang diterbitkan oleh Darul Kitabil ‘Ilmiyyah Beirut
Fatawa Rasulullah, Anda Bertanya Rasulullah Menjawab, Tahqiw dn Ta’liq Syaikh Qasim ar-Rifa’i, Ibnul Qayyim, Pustaka As-Sunnah.
Etika Muslim Sehari-Hari (terj.) karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, http://shirotholmustaqim.files.wordpress.com, diakses 3 Maret 2009
Taisirul Karimir Rahman karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di
Shahih Bukhari yang diterbitkan oleh Darul Kitabil ‘Ilmiyyah Beirut
Fatawa Rasulullah, Anda Bertanya Rasulullah Menjawab, Tahqiw dn Ta’liq Syaikh Qasim ar-Rifa’i, Ibnul Qayyim, Pustaka As-Sunnah.
Langganan:
Postingan (Atom)